Skip to main content

"Flower with Wardah"

diam, tidak bersuara
tetapi terus memancarkan keindahannya
tidak meminta untuk di temukan
tetapi selalu di cari
itulah "bunga"
meski di tepi jalan dia tetap terlihat menawan

foto ini di ambil di depan kontrakan "Rambo"
kontrakan anak-anak komodo yang baru setelah di usir dari Klono
fotografernya ya biasa, abang Wahyu Purnama yang bisa di bayar pake senyum :)

awal mulanya, ketika ikut workshop Wardah di UPN bersama gentong, kak tian dan kak furi kami di mendandani diri sendiri yang hasilnya . . . . . cukup hancur untuk di katakn berhasil
tapi ya untuk yang tidak hobby dandan seperti kami, hasil ini sudah cukup memuaskan
jadi bersama gentong, kami merasa wajah kami yang hari itu bisa di katakan cantik perlu di abadikan dengan kamera profesional
sehingga kami datang ke Rambo dan mengusik pak fotografer

singkat cerita kami mulai bergaya di depan kontrakan dengan di saksikan banyak penonton yang mondat mandir lewat jalan itu
dan berhubung kami sangat tidak peka dan tidak peduli, jadi ya kami cuke-cuek saja

dan inilah hasil foto yang menurut saya lumayan buat di pajang
 di beri judul "Flower with Wardah"
walaupun masih pas-pasan hahahaa
but, it's okay ^^

Comments

Popular posts from this blog

Terlintaskah namaku dalam doamu?

Wahai kau pria dengan wajah teduh Apa kabarmu disana? Aku seperti biasa masih memikirkanmu Masih terpaku dengan angan-angan tentangmu Tentang wajah teduhmu yang tak berani kupandangi Wahai kau pria dengan wajah teduh Sudahkah kau tersenyum hari ini? Aku seperti biasa masih tersenyum setiap mengingatmu Masih hafal gurat indah wajahmu ketika tersenyum Tentang riangnya suaramu yang tak kulupakan Wahai kau pria dengan wajah teduh Sering hatiku ngilu setiap meniti lagi memori tentangmu Tapi bagaimana? Kita bahkan tak punya kenangan apa-apa bersama Hanya ada aku yang tak pernah sanggup menatapmu Hanya ada aku yang tak punya nyali menyapamu Wahai kau pria dengan wajah teduh Sudah ku membentak hati untuk berhenti Logikapun sudah susah payah menasehati Namun namamu seperti enggan pergi Bagaimana denganmu? Terlintaskah namaku dalam doamu? Ahh, kau begitu jauh di utara sana ~

GIVING UP BEFORE STAR

Pernah terbenak untuk menjadi penulis profesional, lalu berhenti karena belum bisa total. Dan semua impian itu akhirnya memudar. Menghilangkan dirinya sendiri.  Entah akan tumbuh lagi. Aku bahkan menyerah sebelum memulai. Berhenti sebelum berlari. Akankah selamanya begini? Menulislah meski hanya satu kalimat sehari, karena mungkin dengan menulis aku bisa kembali merenggut duniaku sendiri yang sudah terlanjur usang ~

Hai Bojonegoro, apa kabar?

Hai Bojonegoro, apa kabar? Aku masih ingat hari itu ketika tiba dikotamu, aku disambut jingga senja yang menakjubkan. Matahari mulai redup di balik pohon-pohon rindang di perbatasan sawah hijaumu. Aku selalu suka jingga senja beradu dengan hijaunya alam, satu lagi hari yang lelah sudah terlewatkan. Senja itu aku memulai langkahku untuk menghadapi tantangan, keluar dari zona nyamanku. Senja itu aku memutuskan untuk berdamai dengan diriku sendiri, untuk mengabdi. Senja itu aku merayumu, maukah kau menerimaku? Warna-warni pelangi almamater dari 13 perguruan tinggi muhammadiyah menghias kotamu pagi itu. Untuk pertama kalinya bertatap muka, saling menyapa. Dari 233 mahasiswa aku dipertemukan dengan delapan wajah baru. Awalnya tampak sedikit menakutkan. Bagaimana tidak? Selama sebulan aku akan berada di tempat yang baru dengan orang-orang yang baru pula. Aku akan menjalani hari-hari dengan orang yang baru saja aku kenal. Bertukar pikiran dengan mereka, dan aku yakin akan sangat sulit ...