Skip to main content

Terlintaskah namaku dalam doamu?

Wahai kau pria dengan wajah teduh
Apa kabarmu disana?
Aku seperti biasa masih memikirkanmu
Masih terpaku dengan angan-angan tentangmu
Tentang wajah teduhmu yang tak berani kupandangi


Wahai kau pria dengan wajah teduh
Sudahkah kau tersenyum hari ini?
Aku seperti biasa masih tersenyum setiap mengingatmu
Masih hafal gurat indah wajahmu ketika tersenyum
Tentang riangnya suaramu yang tak kulupakan


Wahai kau pria dengan wajah teduh
Sering hatiku ngilu setiap meniti lagi memori tentangmu
Tapi bagaimana?
Kita bahkan tak punya kenangan apa-apa bersama
Hanya ada aku yang tak pernah sanggup menatapmu
Hanya ada aku yang tak punya nyali menyapamu


Wahai kau pria dengan wajah teduh
Sudah ku membentak hati untuk berhenti
Logikapun sudah susah payah menasehati
Namun namamu seperti enggan pergi
Bagaimana denganmu?
Terlintaskah namaku dalam doamu?
Ahh, kau begitu jauh di utara sana ~

Comments

Popular posts from this blog

GIVING UP BEFORE STAR

Pernah terbenak untuk menjadi penulis profesional, lalu berhenti karena belum bisa total. Dan semua impian itu akhirnya memudar. Menghilangkan dirinya sendiri.  Entah akan tumbuh lagi. Aku bahkan menyerah sebelum memulai. Berhenti sebelum berlari. Akankah selamanya begini? Menulislah meski hanya satu kalimat sehari, karena mungkin dengan menulis aku bisa kembali merenggut duniaku sendiri yang sudah terlanjur usang ~

Hai Bojonegoro, apa kabar?

Hai Bojonegoro, apa kabar? Aku masih ingat hari itu ketika tiba dikotamu, aku disambut jingga senja yang menakjubkan. Matahari mulai redup di balik pohon-pohon rindang di perbatasan sawah hijaumu. Aku selalu suka jingga senja beradu dengan hijaunya alam, satu lagi hari yang lelah sudah terlewatkan. Senja itu aku memulai langkahku untuk menghadapi tantangan, keluar dari zona nyamanku. Senja itu aku memutuskan untuk berdamai dengan diriku sendiri, untuk mengabdi. Senja itu aku merayumu, maukah kau menerimaku? Warna-warni pelangi almamater dari 13 perguruan tinggi muhammadiyah menghias kotamu pagi itu. Untuk pertama kalinya bertatap muka, saling menyapa. Dari 233 mahasiswa aku dipertemukan dengan delapan wajah baru. Awalnya tampak sedikit menakutkan. Bagaimana tidak? Selama sebulan aku akan berada di tempat yang baru dengan orang-orang yang baru pula. Aku akan menjalani hari-hari dengan orang yang baru saja aku kenal. Bertukar pikiran dengan mereka, dan aku yakin akan sangat sulit ...